Tips Menghadapi Ujian

Belajar mendadak menjelang ujian memang tidak efektif. Paling nggak sebulan sebelum ujian adalah masa ideal buat mengulang pelajaran. Materi yang banyak bukan masalah. Ada sepuluh cara pintar supaya waktu belajar kita menjadi efektif.

1. Belajar itu memahami bukan sekedar menghapal

Yap, fungsi utama kenapa kita harus belajar adalah memahami hal-hal baru. Kita boleh hapal 100% semua detail pelajaran, tapi yang lebih penting adalah apakah kita sudah mengerti betul dengan semua materi yang dihapal itu. Jadi sebelum menghapal, selalu usahakan untuk memahami dulu garis besar materi pelajaran.

2. Membaca adalah kunci belajar

Supaya kita bisa paham, minimal bacalah materi baru dua kali dalam sehari, yakni sebelum dan sesudah materi itu diterangkan oleh guru. Karena otak sudah mengolah materi tersebut sebanyak tiga kali jadi bisa dijamin bakal tersimpan cukup lama di otak kita.

3. Mencatat pokok-pokok pelajaran

Tinggalkan catatan pelajaran yang panjang. Ambil intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah dibaca (ditulis) ulang. Kata-kata kunci inilah yang nanti berguna waktu kita mengulang pelajaran selama ujian.

4. Hapalkan kata-kata kunci

Kadang, mau tidak mau kita harus menghapal materi pelajaran yang lumayan banyak. Sebenarnya ini bisa disiasati. Buatlah kata-kata kunci dari setiap hapalan, supaya mudah diingat pada saat otak kita memanggilnya. Misal, kata kunci untuk nama-nama warna pelangi adalah MEJIKUHIBINIU, artinya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

5. Pilih waktu belajar yang tepat

Waktu belajar yang paling enak adalah pada saaat badan kita masih segar. Memang tidak semua orang punya waktu belajar enak yang sama lo. Tapi biasanya, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berkonsentrasi penuh. Gunakan saat ini untuk mengolah materi-materi baru. Sisa-sisa energi bisa digunakan untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah.

6. Bangun suasana belajar yang nyaman

Banyak hal yang bisa buat suasana belajar menjadi nyaman. Kita bisa pilih lagu yang sesuai dengan mood kita. Tempat belajar juga bisa kita sesuaikan. Kalau sedang bosan di kamar bisa di teras atau di perpustakaan. Kuncinya jangan sampai aktivitas belajar kita mengganggu dan terganggu oleh pihak lain.

7. Bentuk Kelompok Belajar

Kalau lagi bosan belajar sendiri, bisa belajar bareng dengan teman. Tidak usah banyak-banyak karena tidak bakal efektif, maksimal lima orang. Buat pembagian materi untuk dipelajari masing-masing orang. Kemudian setiap orang secara bergilir menerangkan materi yang dikuasainya itu ke seluruh anggota lainnya. Suasana belajar seperti ini biasanya seru dan kita dijamin bakalan susah untuk mengantuk.

8. Latih sendiri kemampuan kita

Sebenarnya kita bisa melatih sendiri kemampuan otak kita. Pada setiap akhir bab pelajaran, biasanya selalu diberikan soal-soal latihan. Tanpa perlu menunggu instruksi dari guru, coba jawab semua pertanyaan tersebut dan periksa sejauh mana kemampuan kita. Kalau materi jawaban tidak ada di buku, cobalah tanya ke guru.

9. Kembangkan materi yang sudah dipelajari

Kalau kita sudah mengulang materi dan menjawab semua soal latihan, jangan langsung tutup buku. Cobalah kita berpikir kritis ala ilmuwan. Buatlah beberapa pertanyaan yang belum disertakan dalam soal latihan. Minta tolong guru untuk menjawabnya. Kalau belum puas, cari jawabannya pada buku referensi lain atau internet. Cara ini mengajak kita untuk selalu berpikir ke depan dan kritis.

10. Sediakan waktu untuk istirahat

Belajar boleh kencang, tapi jangan lupa untuk istirahat. Kalau di kelas, setiap jeda pelajaran gunakan untuk melemaskan badan dan pikiran. Setiap 30-45 menit waktu belajar kita di rumah selalu selingi dengan istirahat. Kalau pikiran sudah suntuk, percuma saja memaksakan diri. Setelah istirahat, badan menjadi segar dan otak pun siap menerima materi baru.

Satu lagi, tujuan dari ulangan dan ujian adalah mengukur sejauh mana kemampuan kita untuk memahami materi pelajaran di sekolah. Selain menjawab soal-soal latihan, ada cara lain untuk mengetes apakah kita sudah paham suatu materi atau belum. Coba kita jelaskan dengan kata-kata sendiri setiap materi yang sudah dipelajari. Kalau kita bisa menerangkan dengan jelas dan teratur – tak perlu detail – berarti kita sudah paham. Tips terakhir adalah metode jitu agar cepat dan luwes dalam memahami topik suatu pelajaran adalah dengan ditulis ulang, karena pada saat kita menulis otak kita tidak sekedar merekam tetapi juga turut menggambarkan/implementasi suatu pokok bahasan. Terima Kasih semoga bermanfaat.

Magelang gemilang_Magelang harapan

Makanan Khas Magelang

– Getuk Magelang
– Buntil daun talas
– Kupat tahu Magelang
– Bakmi Magelang’an
– Wajik salaman
– Tape ketan muntilan
– Sop senerek
– Salak nglumut magelang

Tempat Menarik
– Taman Kyai Langgeng
– Pecinan atau Jl. Pemuda
– Bukit Tidar
– Taman Badaan
– Alun-alun Kota Magelang
– Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen, Candi Canggal, Candi Selogriyo, dan Candi Gunungsari
– Kawasan wisata Kopeng
– Gardu Pandang Ketep
– Air terjun Kedung Kayang
– Gardu Pandang Babadan
– Curug Silawe
– Pemandian air panas Candi Umbul
– Air terjun Sekar Langit
– Museum Senirupa Haji Widayat.

Manfaat Alpokat

Alpokat(Persea gratissima Gaertn.)
Ternyata buah ini mempunyai banyak manfaat. Buah ini bisa digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Diantaranya yaitu Sariawan, melembabkan kulit kuring, kencing batu, sakit kepala; Darah tinggi (Hipertensi), nyeri saraf (neuralgia), nyeri lambung,; Saluran napas membengkak (bronchial swellings), sakit gigi,; Kencing manis (diabetes melitus), menstruasi tidak teratur.

KEGUNAAN:
Daging buah :
– Sariawan.
– Melembabkan kulit kering.

Daun:
– Kencing batu.
– Darah tinggi, sakit kepala.
– Nyeri syaraf.
– Nyeri lambung.
– Saluran napas membengkak (bronchial swellings).
– Menstruasi tidak teratur.

Biji:
– Sakit gigi.
– Kencing manis.

PEMAKAIAN,.
Untuk minum: 3-6 lembar daun.
Pemakaian Luar: Daging buah secukupnya dilumatkan, dipakai untuk masker. Daun untuk pemakaian setempat, biji digiling halus menjadi serbuk untuk menghilangkan sakit.

CARA PEMAKAIAN:
1. Sariawan:
Sebuah isi alpokat yang sudah masak diberi 2 sendok makan madu
murni, diaduk merata lalu dimakan. Lakukan setiap hari sampai
sembuh.

2. Kencing batu:
4 lembar daun alpokat, 3 buah rimpang teki, 5 tangkai daun randu,
setengah biji pinang, 1 buah pala, 3 jari gula enau, dicuci lalu
direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas.
Setelah dingin disaring lalu diminum. Sehari 3 x 3/4 gelas.

3. Darah tinggi :
3 lembar daun alpokat dicuci bersih lalu diseduh dengan 1 gelas air
panas. Setelah dingin diminum sekaligus.

4. Kulit muka kering:
Buah diambil isinya lalu dilumatkan sampai seperti bubur. Dipakai
untuk masker, dengan cara memoles muka yang kering. Muka
dibasuh dengan air setelah lapisan masker alpokat tersebut
mengering.

5. Sakit gigi berlubang:
Lubang pada gigi dimasukkan bubuk biji alpokat.

6. Bengkak karena Peradangan:
Bubuk dari biji secukupnya ditambah sedikit air sampai menjadi
adonan seperti bubur, balurkan kebagian tubuh yang sakit.

7. Kencing manis:
Biji dipanggang di atas api lalu dipotong kecil-kecil dengan golok,
kemudian digodok dengan air bersih sampai airnya menjadi coklat.
Saring, minum setelah dingin.

8. Teh dan alpokat baik untuk menghilangkan rasa sakit kepala, nyeri
lambung, bengkak pada saluran napas, rasa nyeri syaraf (Neuralgia)
dan datang haid tidak teratur.

PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK

Disusun oleh:
Retno Kusumawati

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti berinteraksi dengan sampah. Di rumah, jalan, pasar, atau dimanapu berada, dalam berbagai macam wujudnya akan ditemui sampah.
Sampah merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia. Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah. Jumlah atau volume sampah yang ada sebanding dengan tingkat konsumsi terhadap barang atau material yang digunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis barang atau material yang dikonsumsi.
Berbicara tentang sampah adalah berbicara masalah. Banyak masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sampah, diantaranya yaitu pencemaran udara, karena baunya yang tidak sedap, kesan jijik, mengganggu nilai estetika, pencemaran air yaitu apabila membuang sampah sembarangan, misalnya di sungai, maka akan membuat air menjadi kotor dan berbau. Sampah dapat juga menjadi sumber penyakit, bila terdapat sampah yang sudah membusuk dan sampah tersebut dihingapi lalat, kemudian lalat tersebut hinggap ke makanan padahal sudah membawa wabah penyakit, maka akan membuat orang yang memakan makanan tersebut terserang penyakit. Demikian juga bila sampah menyumbat saluran-saluran air yang menyebabkan ada genangan, genangan air itu dapat menjadi sarang nyamuk dan tempat tumbuh bakteri-bakteri penyebab timbulnya penyakit. Selain masalah tadi, sampah dapat juga sebagai salah satu penyebab bencana, misalnya bencana banjit, sampah yang dibuang di sungai bisa menyebabkan sungai sempit, sehingga ketika musim hujan datang, sungai tersebut tidak dapat menampung air dalam jumlah besar dan mengakibatkan air meluap dan terjadilah banjir.
Untuk itu manusia sebisa mungkin harus bisa mengurangi penggunaan barang atau material agar sampah yang dihasilkan juga tidak terlalu banyak. Ketika membuang sampah sebaiknya dipilah-pilah antara sampah organik dan anorganik karena sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi atau mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa didaur ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan dari keduanya.

B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang diangkat dalam karya ilmiah ini, dapat ditulis dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana cara agar jumlah atau volume tumpukan sampah tidak terlalu banyak?
2. Bagaimana cara memanfaatkan sampah?

C. Pembatasan Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah, akan dibahas dalam karya ilmiah ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1. Cara agar jumlah atau volume tumpukan sampah tidak terlalu banyak.
2. Cara pemanfaatan sampah.

D. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini, sebagai berikut:
1. Mengetahui cara agar jumlah atau volume tumpukan sampah tidak terlalu banyak.
2. Mengetahui cara pemanfaatan sampah.

BAB II
KAJIAN TEORI
Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous). Selain itu, banyak lagi definisi tentang sampah, antara lain menurut Soewedo (dalam http://www.dephut.go.id//),menyatakan bahwa, ”sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis”.
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan”. (Kamus Istilah Lingkungan, 1994). “Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.” (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996). “Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula”. (Tandjung, Dr. M.Sc., 1982) “Sampah adalah sumberdaya yang tidak siap pakai.” (Radyastuti, W. Prof. Ir, 1996)
Banyak juga definisi tentang sampah tergantung dari pendekatan ilmu yang digunakan, seperti antara lain menurut DR.Ir.H.Iwan Kusmarwanto yang memandang dari pendekatan proses, bahwa sampah adalah segala jenis kotoran / buangan yang merupakan sisa proses oleh manusia dan mesin-mesin pembantunya. Dengan memandang bahwa sampah adalah suatu produk yang tidak lagi mempunyai nilai ekonomis, pengertian ini mengarahkan pada hal-hal teknis tentang bagaimana melakukan pemusnahan secara tuntas tetapi mampu mengangkat menjadi bernilai ekonomis. Dari sisi manfaat atau tidaknya suatu benda, sampah dimaknai sebagai sebuah materi sampingan yang tidak dibutuhkan yang muncul atau terbawa dari sebuah proses. Teori ini memandang sampah dari sisi materinya, sedangkan penggolongan materi tersebut termasuk sampah atau tidak, adalah sesuatu yang relative, tergantung dari subyeknya.
Untuk lebih mengenal secara detail dan rinci, sehingga mendapatkan pengertian dan langkah penanganan yang tepat, dilakukan pengelompokan dengan bermacam-macam dasar misal menurut wujud, sifat, asal dsb.

Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan sebagai:
1. Sampah Organik
Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.
2. Sampah Anorganik
Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

Sampah Berdasarkan Kemanfaatannya
1. Sampah Sejati
Sampah sejati adalah sampah tulen, dan barang-barang yang sudah tidak berguna dan tidak bisa dimanfaatkan lagi.
2. Setengah Sampah
Setengah sampah adalah barang yang sudah dicampakkan orang karena dianggap tidak berguna lagi. Padahal sebenarnya dia masih berguna, masih memiliki manfa-at atau dimanfaatkan. Tetapi agar barang ini bisa dimanfaatkan, barang ini harus diolah dulu atau harus diubah dulu menjadi bentuk lain untuk manfaat lain.
3. Sampah-sampahan
Jenis ini juga sering dianggap sampah oleh orang kebanyakan. Mereka dicampak-kan ke tempat-tempat sampah. Padahal mereka masih memiliki kegunaan. Jadi orang menganggap dia sampah hanya karena tidak bisa memaanfaatkan dia lagi, akhirnya dia dicampakkan. Contohnya mudah, yaitu botol bekas. Botol bekas yang masih utuh sering dicampakkan orang di tempat-tempat sampah. Padahal botol-botol ini masih memiliki manfaat yang sama. Cara memanfaatkan dia mudah sekali, bersihkan dan pakai lagi.

BAB III
PEMBAHASAN

1. Upaya Mengurangi Jumlah atau Volume Tumpukan Sampah yang Banyak
Sampah, yaitu sesuatu yang dianggap sangat menjijikkan, berbau tidak sedap dan kotor. Sampah sering ditemukan di mana-mana dan sangat mengganggu pemandangan serta mencemari lingkungan. Kebanyakan sampah merupakan buangan dari aktifitas manusia dan manusia pasti tidak dapat lepas dari sampah. Sampah dengan jumlah yang relatif terbatas mungkin pengaruhnya tidak akan begitu terasa. Akan tetapi, seiring dengan dinamika masyarakat yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu dimana meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhannya termasuk di dalamnya, sudah pasti volume sampah dan segala akibat yang terasa juga akan berubah. Namun, terdapat kesalahan dalam pembuangan sampah. Yaitu upaya penanganan sampah masih dititikberatkan pada upaya penyingkiran, bukan pada upaya pemanfaatan kembali, sehingga banyak terlihat tumpukan-tumpukan sampah.
Seperti yang telah dijelaskan bahwa manusia memang tidak dapat lepas dari sampah, tetapi masih ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah atau volume tumpukan sampah agar tidak terlalu banyak, diantaranya yaitu:
 Mengurangi; sebisa mungkin melakukan minimalisasi barang atau material yang dipergunakan. Semakin banyak menggunakan barang atau material, semakin banyak sampah yang akan dihasilkan.
 Memakai kembali; apabila membeli barang sebisa mungkin memilih barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari memakai barang-barang yang hanya sekali pakai langsung dibuang. Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum akhirnya menjadi sampah.
 Mendaur ulang; barang-barang yang sudah tidak berguna lagi dapat didaur ulang. Tidak semua barang dapat didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
 Mengganti; teliti barang-barang yang dipakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali saja dengan barang yang lebih tahan lama. Diharapkan juga agar memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, mengganti kantong kresek dengan keranjang bila berbelanja, dan sebisa mungkin jangan menggunakan styrofoam untuk tempat makanan.

2. Pemanfaatan Sampah
Sekarang ini orang-orang hanya menganggap bahwa sampah adalah sumber pencemaran lingkungan yang apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pengotoran lingkungan, pencemaran air, tempat tumbuh bibit penyakit, dan banyak masalah lainnya. Inilah pemaknaan sampah pada posisi sebagai limbah. Pemaknaan tersebut memang tepat, akan tetapi pemaknaan yang hanya menganggap sampah sebagai limbah tersebut membuat berbagai tindakan penanganan yang diambil terasa kurang tepat. Upaya penanganan sampah hanya dengan penyingkiran, bukan dengan upaya pemanfaatan kembali. Padahal apabila upaya pemanfaatan kembali tersebut dilakukan, selain menciptakan kebersihan juga menciptakan sisi ekonomis dari sampah tersebut.
Upaya pemanfaatan kembali dilakukan dengan cara mengolah sampah menjadi barang lain atau bentuk lain untuk manfaat lain, istilah lainnya yaitu daur ulang. Namun, salah satu kesulitan mengolah sampah yang ada di pembuangan limbah adalah karena sampah campur aduk menjadi satu. Oleh karena itu, untuk mempermudah proses pengolahan sampah yang akan dibuang harus dipilah-pilah terlebih dahulu, yaitu dipisahkan antara sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik dan anorganik, seperti yang sudah dijelaskan pada kajian teori merupakan penggolongan sampah berdasarkan asalnya. Pengertian sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, contohnya yaitu daun-daunan, sampah dapur, sampah dari pasar-pasar tradisional, peternakan, dan pertanian. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang bukan berasal dari makhluk hidup atau barang yang dibuat secara kimiawi, sintetik, atau dengan kata lain tidak alami. Alasan mengapa sampah harus dipilah-pilah adalah agar tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur ulang secara optimal. Selain itu, apabila sampah organik dan anorganik tercampur maka akan merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan kembali. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi atau mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa didaur ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan dari keduanya.
a. Pemanfaatan Sampah Organik
Sampah organik dapat digolongkan lagi menjadi sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak dapat didaur ulang. Contoh sampah yang bisa didaur ulang yaitu kertas. Kertas-kertas yang sudah digunakan dan tidak terpakai lagi, koran dan kardus-kardus bekas dapat dibuat menjadi kertas yang dapat dimanfaatkan kembali., misalnya menjadi kertas buram. Kertas-kertas tersebut dapat juga dimanfaatkan untuk bahan dalam pembuatan barang-barang kerajinan seperti patung, bingkai foto, dan lain sebagainya.
Sedangkan, sampah organik yang tidak dapat didaur ulang contohnya yaitu sisa makanan, sayur-sayuran, daun-daunan, buah-buahan, kotoran ternak, ampas tebu, dll. Kelihatannya sampah-sampah tersebut sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi dan dibiarkan menumpuk dan membusuk. Padahal sebenarnya sampah jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos/pupuk organik atau sumber bahan organik tanah dalam meningkatkan produktivitas pertanian, untuk pembuatan vermi kompos (pengomposan dengan cacing), dan dapat juga dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutrisi-nutrisi yang ada ke tanah. Solusi lain yaitu dengan menerapkan teknologi anerobik untuk menghasilkan biogas. Sampah organik juga merupakan bahan pembuatan bioethanol.

b. Pemanfaatan Sampah Anorganik
Tidak hanya ampah organic yang dapat dibedakan menjdi sampah yang dapat didaur ulang dan tidak dapat didaur ulang, tetapi sampah anorganik juga bisa. Contoh sampah anorganik yang dapat didaur ulang yaitu sampah plastik-plastikan, kaca, dan sampah logam seperti besi, alumunium, tembaga, nikel, seng, dll. Contoh-contoh tadi dapat didaur ulang dengan mengubah barang menjadi bentuk yang lain. Misalkan besi yang sudah tidak terpakai dapat dipanaskan kemudian dictak ulang menjadi besi yang baru. Botol-botol bekas minuman mineral bisa menjadi bahan produksi yaitu dapat dibuat vas bunga. Botol-botol dari kaca atau bekas minuman mineral bisa juga dipakai lagi untuk tempat minuman.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Sampah merupakan buangan dari aktivitas manusia dan memang manusia pasti tidak dapat lepas dari sampah. Namun ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah atau volume tumpukan sampah agar tidak terlalu banyak, di antaranya yaitu mengurangi, memakai kembali, mendaur ulang, mengganti, dan industri-industri juga harus mendesain ulang produk-produk mereka.
Sampah hanya dianggap sebagai limbah yang dapat mengakibatkan pengotoran lingkungan, pencemaran air, tempat tumbuh bibit penyakit dan masalah lainnya. Namun, serenarnya sampah masih bisa dimanfaatkan lagi, misalnya sampah organik yang dapat didaur ulang, seperti kertas dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan untuk membuat barang kerajinan. Sampah organik yang tidak dapat didaur ulang seperti sisa makanan, sayur-sayuran, daun-daunan,buah-buahan, kotoran ternak, ampas tebu,dll, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos atau pupuk organik atau sumber bahan organik tanah dalam meningkatkan produktivitas pertanian untuk pembuatan vermi kompos (pengomposan dengan cacing) dan dapat juga dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutrisi-nutrisi yang ada ke tanah. Solusi lain yaitu dengan menerapkan teknologi anerobik untuk menghasilkan biogas. Sampah organik juga merupakan bahan pembuatan bioethanol. Ada lagi sampah anorganik yang dapat didaur ulang seperti plastik-plastikan, kaca, dan logam-logaman dapat didaur ulang menjadi bentuk lain. Sedangkan sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang seperti plastik yang tidak dapat didaur ulang memang tidak dapat dimanfaatkan lagi, dan sampah ini sebaiknya dibakar dalam inginerator.

B. Saran
Ketika membuang sampah sebaiknya dipilah-pilah antara sampah organik dan anorganik
Sebisa mungkin jangan membiarkan sampah berkumpul dan menumpuk, sebaiknya diolah dan dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna.

DAFTAR PUSTAKA

http://ardansirodjuddin.wordpress.com/2008/08/05/pemanfaatan-sampah/

http://contoh.000webhost.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2

file:///E:/WALHI-Mengelola Sampah,Mengelola Gaya Hidup.htm

file:///E:/Situs Web Kimia Indonesia_Fokus_Sampah Organik sebagai Bahan Baku Biogas.htm
http://isroi.wordpress.com/2008/04/18/peluang-peluang-pemanfaatan-sampah-organik/
http://isroi.wordpress.com/2008/05/10/cerita-sampah-masalah-dan-solusinya-bagian-2/

http://mbojo.wordpress.com/2007/09/25/potensi-sampah-kota-sebagai-sumber-bahan-organik/

http://tjahjo82.blogspot.com/2007/01/paradigma-sampah.html

KEDUDUKAN ANAK DALAM PERKAWINAN CAMPURAN ANTARBANGSA

KEDUDUKAN ANAK DALAM PERKAWINAN CAMPURAN ANTARBANGSA

KATA PENGANTAR

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa , yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penyusunan makalah ini tidak lepas dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Y.Ch.Nany S., M.Si, selaku dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
2. Kedua orang tua kami yang telah mendukung kelancararan penyusunan makalah ini.
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa karya ini jauh dari sempurna, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran. Akhir kata semoga karya ilmiah ini bermanfaat dan menjadi sumbangan yang berharga serta amal sholeh disisi Tuhan YME. Amin.
Yogyakarta, 23 Maret 2009
Hormat kami,
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Pada umumnya perkawinan dianggap sebagai sesuatu yang suci dan karenanya setiap agama selalu menghubungkan kaidah-kaidah perkawinan dengan kaidah-kaidah agama. Semua agama umumnya mempunyai hukum perkawinan yang tekstular.
Pengertian perkawinan menurut ketentuan Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa : “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Suatu perkawinan mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia dikarenakan :
1. Dalam suatu perkawinan yang sah selanjutnya akan menghalalkan hubungan atau pergaulan hidup manusia sebagai suami istri. Hal itu adalah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk yang memiliki derajat dan kehormatan.
2. Adanya amanah dari Tuhan mengenai anak-anak yang dilahirkan. Anak-anak yang telah dilahirkan hendaknya dijaga dan dirawat agar sehat jasmani dan rohani demi kelangsungan hidup keluarga secara baik-baik dan terus menerus.
3. Terbentuknya hubungan rumah tangga yang tentram dan damai dalam suatu rumah tangga yang tentram dan damai diliputi rasa kasih sayang selanjutnya akan menciptakan kehidupan masyarakat yang tertib dan teratur.
4. Perkawinan merupakan suatu bentuk perbuatan ibadah. Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada yang mampu untuk segera melaksanakannya, karena dengan perkawinan dapat mengurangi perbuatan maksiat penglihatan, memelihara diri dari perzinahan.

Perkawinan membutuhkan perekat yang berfungsi untuk menyatukan dua insan. Kalau perekatnya banyak, perkawinan akan menjadi semakin kokoh dan tidak mudah digoyahkan dalam berbagai masalah. Sebaliknya, kalau perekatnya cuma sedikit, perkawinan akan mudah sekali berakhir, hanya menunggu waktu saja. Kehadiran anak merupakan pengikat yang paling mendasar dalam perkawinan. Jika sudah ada anak, selayaknyalah sepasang suami istri berusaha mempertahankan perkawinan karena anak adalah tanggung jawab mereka.

Akibat hukum dari adanya suatu ikatan perkawinan tersebut yaitu akan timbul hak dan kewajiban tertentu antara satu dengan yang lain, yaitu antara suami istri, dan antara mereka bersama dengan masyarakat. Perkawinan bagi manusia bukan hanya sekedar hubungan antara jenis kelamin yang berbeda sebagaimana makhluk lainnya, tetapi perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, serta menyangkut kehormatan keluarga dan kerabat dalam pergaulan masyarakat. Dengan perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan. Demikian pula anak keturunan dari hasil perkawinan yang sah akan menghiasi kehidupan keluarga dan merupakan kelangsungan hidup manusia secara baik dan terhormat.

Dalam kamajuan teknologi yang pesat dan semakin canggih seperti saat ini, maka komunikasi semakin mudah untuk dilakukan. Hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap hubungan internasional yang melintasi wilayah antar Negara. Bagi Indonesia, sejak dicetuskannya Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia menjadi Negara yang merdeka dan bedaulat setelah beberapa abad menjadi jajahan bangsa asing. Dengan kemerdekaannya itu maka bangsa Indonesia mulai ikut serta secara langsung dalam pergaulan bersama diantara bangsa-bangsa merdeka di dunia ini. Seperti adanya organisasi ASEAN serta organisasi internasional PBB yang bisa mempererat hubungan antar bangsa atau antar warga Negara. Keterbukaan Indonesia dalam aktifitas dan pergaulan internasional membawa dampak tertentu pada hubungan manusia dalam bidang kekeluargaan, khususnya perkawinan. Selain itu, manusia mempunyai rasa cita yang universal, tidak mengenal perbedaan warna kulit, agama, golongan maupun bangsa, sehingga bukanlah hal yang mustahil bila terjadi perkawinan antar manusia yang mempunyai kewarganegaran yang berbeda yaitu antara warga Negara Indonesia (WNI) dengan warga Negara asing (WNA). Perkawinan ini di Indonesia dikenal dengan istilah perkawinan campuran.

Pengertian Perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 : ”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.”

Pemerintah dan DPR pada akhirnya telah menyepakati bersama Rancangan Undang-Undang tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang saat ini telah diundangkan menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 63, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4634, serta diundangkan pada tanggal 1 Agustus 2006. Undang-Undang ini menggantikan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 yang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ketatanegaraan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 secara substansi jauh lebih maju dan demokratis dari pada Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958, karena dalam pembentukan Undang-Undang tersebut telah mengakomodasi berbagai pemikiran yang mengarah kepada pemberian perlindungan warganegaranya dengan memperhatikan kesetaraan gender, tapi yang tidak kalah penting adalah pemberian perlindungan terhadap anak-anak hasil perkawinan campuran antara warga negara Indonesia dengan warga negara asing.

Berdasarkan Latar Belakang tersebut maka penulis tertarik untuk memaparkan makalah tentang : “Kedudukan anak dalam perkawinan campuran antarbangsa.”

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kedudukan anak sebagai subjek hukum?
2. Bagaimana pengaturan kedudukan anak dalam perkawinan campuran?

BAB II
PEMBAHASAN
A. KEDUDUKAN ANAK SEBAGAI SUBJEK HUKUM
Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah :
“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup.Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain. Berdasarkan pasal 1330 KUHP, mereka yang digolongkan tidak cakap adalah mereka yang belum dewasa, wanita bersuami, dan mereka yang dibawah pengampuan. Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum. Anak yang lahir dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.
B. PENGATURAN KEDUDUKAN ANAK DALAM PERKAWINAN CAMPURAN
1. Menurut Teori Hukum Perdata Internasional
Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan, apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya.

Sejak dahulu diakui bahwa soal keturunan termasuk status personal. Negara-negara common law berpegang pada prinsip domisili (ius soli) sedangkan negara-negara civil law berpegang pada prinsip nasionalitas (ius sanguinis). Umumnya yang dipakai ialah hukum personal dari sang ayah sebagai kepala keluarga (pater familias) pada masalah-masalah keturunan secara sah. Hal ini adalah demi kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan kekeluargaan, demi stabilitas dan kehormatan dari seorang istri dan hak-hak maritalnya.Sistem kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak dipergunakan di negara-negara lain, seperti misalnya Jerman, Yunani, Italia, Swiss dan kelompok negara-negara sosialis.

Dalam sistem hukum Indonesia, Prof.Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No.62 tahun 1958.

Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namun dalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih dibawah umur.

2. Menurut UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958
Permasalahan dalam perkawinan campuran
Ada dua bentuk perkawinan campuran dan permasalahannya:
a. Pria Warga Negara Asing (WNA) menikah dengan Wanita Warga Negara Indonesia (WNI)
Berdasarkan pasal 8 UU No.62 tahun 1958, seorang perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan seorang asing bisa kehilangan kewarganegaraannya, apabila selama waktu satu tahun ia menyatakan keterangan untuk itu, kecuali apabila dengan kehilangan kewarganegaraan tersebut, ia menjadi tanpa kewarganegaraan. Apabila suami WNA bila ingin memperoleh kewarganegaraan Indonesia maka harus memenuhi persyaratan yang ditentukan bagi WNA biasa.Karena sulitnya mendapat ijin tinggal di Indonesia bagi laki laki WNA sementara istri WNI tidak bisa meninggalkan Indonesia karena satu dan lain hal (faktor bahasa, budaya, keluarga besar, pekerjaan pendidikan,dll),maka banyak pasangan seperti terpaksa hidup dalam keterpisahan.
b. Wanita Warga Negara Asing (WNA) yang menikah dengan Pria Warga Negara Indonesia (WNI)
Indonesia menganut azas kewarganegaraan tunggal sehingga berdasarkan pasal 7 UU No.62 Tahun 1958 apabila seorang perempuan WNA menikah dengan pria WNI, ia dapat memperoleh kewarganegaraan Indonesia tapi pada saat yang sama ia juga harus kehilangan kewarganegaraan asalnya. Permohonan untuk menjadi WNI pun harus dilakukan maksimal dalam waktu satu tahun setelah pernikahan, bila masa itu terlewati , maka pemohonan untuk menjadi WNI harus mengikuti persyaratan yang berlaku bagi WNA biasa.[13] Untuk dapat tinggal di Indonesia perempuan WNA ini mendapat sponsor suami dan dapat memperoleh izin tinggal yang harus diperpanjang setiap tahun dan memerlukan biaya serta waktu untuk pengurusannya. Bila suami meninggal maka ia akan kehilangan sponsor dan otomatis keberadaannya di Indonesia menjadi tidak jelas Setiap kali melakukan perjalanan keluar negri memerlukan reentry permit yang permohonannya harus disetujui suami sebagai sponsor.[14] Bila suami meninggal tanah hak milik yang diwariskan suami harus segera dialihkan dalam waktu satu tahun.[15] Seorang wanita WNA tidak dapat bekerja kecuali dengan sponsor perusahaan. Bila dengan sponsor suami hanya dapat bekerja sebagai tenaga sukarela. Artinya sebagai istri/ibu dari WNI, perempuan ini kehilangan hak berkontribusi pada pendapatan rumah tangga.

2. Anak hasil perkawinan campuran
Indonesia menganut asas kewarganegaraan tunggal, dimana kewarganegaraan anak mengikuti ayah, sesuai pasal 13 ayat (1) UU No.62 Tahun 1958 :
“Anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin yang mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya sebelum ayah itu memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia, turut memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia setelah ia bertempat tinggal dan berada di Indonesia. Keterangan tentang bertempat tinggal dan berada di Indonesia itu tidak berlaku terhadap anak-anak yang karena ayahnya memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia menjadi tanpa kewarganegaraan.”
Dalam ketentuan UU kewarganegaraan ini, anak yang lahir dari perkawinan campuran bisa menjadi warganegara Indonesia dan bisa menjadi warga negara asing.

a. Menjadi warga negara Indonesia
Apabila anak tersebut lahir dari perkawinan antara seorang wanita warga negara asing dengan pria warganegara Indonesia (pasal 1 huruf b UU No.62 Tahun 1958), maka kewarganegaraan anak mengikuti ayahnya, kalaupun Ibu dapat memberikan kewarganegaraannya, si anak terpaksa harus kehilangan kewarganegaraan Indonesianya.Bila suami meninggal dunia dan anak anak masih dibawah umur tidak jelas apakah istri dapat menjadi wali bagi anak anak nya yang menjadi WNI di Indonesia. Bila suami (yang berstatus pegawai negeri) meningggal tidak jelas apakah istri (WNA) dapat memperoleh pensiun suami.
b. Menjadi warga negara asing
Apabila anak tersebut lahir dari perkawinan antara seorang wanita warganegara Indonesia dengan warganegara asing.Anak tersebut sejak lahirnya dianggap sebagai warga negara asing sehingga harus dibuatkan Paspor di Kedutaan Besar Ayahnya, dan dibuatkan kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) yang harus terus diperpanjang dan biaya pengurusannya tidak murah. Dalam hal terjadi perceraian, akan sulit bagi ibu untuk mengasuh anaknya, walaupun pada pasal 3 UU No.62 tahun 1958 dimungkinkan bagi seorang ibu WNI yang bercerai untuk memohon kewarganegaraan Indonesia bagi anaknya yang masih di bawah umur dan berada dibawah pengasuhannya, namun dalam praktek hal ini sulit dilakukan.

Masih terkait dengan kewarganegaraan anak, dalam UU No.62 Tahun 1958, hilangnya kewarganegaraan ayah juga mengakibatkan hilangnya kewarganegaraan anak-anaknya yang memiliki hubungan hukum dengannya dan belum dewasa (belum berusia 18 tahun atau belum menikah). Hilangnya kewarganegaraan ibu, juga mengakibatkan kewarganegaraan anak yang belum dewasa (belum berusia 18 tahun/ belum menikah) menjadi hilang (apabila anak tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya).
3. Menurut UU Kewarganegaraan Baru
a. Pengaturan Mengenai Anak Hasil Perkawinan Campuran
Undang-Undang kewarganegaraan yang baru memuat asas-asas kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam Undang-Undang ini sebagai berikut:
1) Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
2) Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
3) Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang.
4) Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Undang-Undang ini pada dasarnya tidak mengenal kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride). Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam Undang-Undang ini merupakan suatu pengecualian. Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak, maka hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu (apabila anak tersebut tidak punya hubungan hukum dengan ayahnya) tidak secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan anak menjadi hilang.
b. Kewarganegaraan Ganda Pada Anak Hasil Perkawinan Campuran
Berdasarkan UU ini anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, sama-sama diakui sebagai warga negara Indonesia.
Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda , dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya.Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin.

Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif bagi anak-anak hasil dari perkawinan campuran. Namun perlu ditelaah, apakah pemberian kewaranegaraan ini akan menimbulkan permasalahan baru di kemudian hari atau tidak. Memiliki kewarganegaraan ganda berarti tunduk pada dua yurisdiksi.

Indonesia memiliki sistem hukum perdata internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status personal indonesia menganut asas konkordasi, yang antaranya tercantum dalam Pasal 16 A.B. (mengikuti pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari pasal 3 Code Civil Perancis). Berdasarkan pasal 16 AB tersebut dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. Hal ini berati warga negara indonesia yang berada di luar negeri, sepanjang mengenai hal-hal yang terkait dengan status personalnya , tetap berada di bawah lingkungan kekuasaan hukum nasional indonesia, sebaliknya, menurut jurisprudensi, maka orang-orang asing yang berada dalam wilayah Republik indonesia dipergunakan juga hukum nasional mereka sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal mereka.Dalam jurisprudensi indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan perbuatan hukum, soal nama, soal status anak-anak yang dibawah umur.

Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan negara yang lain.

Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah maka harus memuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8 UU No.1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya.

Hal tersebut yang tampaknya perlu dipikirkan dan dikaji oleh para ahli hukum perdata internasional sehubungan dengan kewarganegaraan ganda ini. Penulis berpendapat karena undang-undang kewarganegaraan ini masih baru maka potensi masalah yang bisa timbul dari masalah kewarganegaraan ganda ini belum menjadi kajian para ahli hukum perdata internasional.
c. Kritisi terhadap UU Kewarganegaraan yang baru
Walaupun banyak menuai pujian, lahirnya UU baru ini juga masih menuai kritik dari berbagai pihak. Salah satu pujian sekaligus kritik yang terkait dengan status kewarganegaraan anak perkawinan campuran datang dari KPC Melati (organisasi para istri warga negara asing).
“Ketua KPC Melati Enggi Holt mengatakan, Undang-Undang Kewarganegaraan menjamin kewarganegaraan anak hasil perkawinan antar bangsa. Enggi memuji kerja DPR yang mengakomodasi prinsip dwi kewarganegaraan, seperti mereka usulkan, dan menilai masuknya prinsip ini ke UU yang baru merupakan langkah maju. Sebab selama ini, anak hasil perkawinan campur selalu mengikuti kewarganegaraan bapak mereka. Hanya saja KPC Melati menyayangkan aturan warga negara ganda bagi anak hasil perkawinan campur hanya terbatas hingga si anak berusia 18 tahun. Padahal KPC Melati berharap aturan tersebut bisa berlaku sepanjang hayat si anak.

Penulis kurang setuju dengan kritik yang disampaikan oleh KPC Melati tersebut. Menurut hemat penulis, kewarganegaraan ganda sepanjang hayat akan menimbulkan kerancuan dalam menentukan hukum yang mengatur status personal seseorang. Karena begitu seseorang mencapat taraf dewasa, ia akan banyak melakukan perbuatan hukum, dimana dalam setiap perbuatan hukum tersebut, untuk hal-hal yang terkait dengan status personalnya akan diatur dengan hukum nasionalnya, maka akan membingungkan bila hukum nasional nya ada dua, apalagi bila hukum yang satu bertentangan dengan hukum yang lain. Sebagai contoh dapat dianalogikan sebagai berikut :
“Daru, pemegang kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Belanda, ia hendak melakukan pernikahan sesama jenis. Menurut hukum Indonesia hal tersebut dilarang dan melanggar ketertiban hukum, sedangkan menurut hukum Belanda hal tersebut diperbolehkan. Maka akan timbul kerancuan hukum mana yang harus diikutinya dalam hal pemenuhan syarat materiil perkawinan khususnya.”

Terkait dengan persoalan status anak, penulis cenderung mengkritisi pasal 6 UU Kewarganegaraan yang baru, dimana anak diizinkan memilih kewarganegaraan setelah berusia 18 tahun atau sudah menikah. Bagaimana bila anak tersebut perlu sekali melakukan pemilihan kewarganegaraan sebelum menikah, karena sangat terkait dengan penentuan hukum untuk status personalnya, karena pengaturan perkawinan menurut ketentuan negara yang satu ternyata bertentangan dengan ketentuan negara yang lain. Seharusnya bila memang pernikahan itu membutuhkan suatu penentuan status personal yang jelas, maka anak diperbolehkan untuk memilih kewarganegaraannya sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Hal ini penting untuk menghindari penyelundupan hukum, dan menghindari terjadinya pelanggaran ketertiban umum yang berlaku di suatu negara.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak adalah subjek hukum yang belum cakap melakukan perbuatan hukum sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kecakapan. Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan yang baru, memberi pencerahan yang positif, terutama dalam hubungan anak dengan ibunya, karena UU baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil perkawinan campuran.

UU Kewarganegaraan yang baru ini menuai pujian dan juga kritik, termasuk terkait dengan status anak. Penulis juga menganalogikan sejumlah potensi masalah yang bisa timbul dari kewarganegaraan ganda pada anak. Seiring berkembangnya zaman dan sistem hukum, UU Kewarganegaraan yang baru ini penerapannya semoga dapat terus dikritisi oleh para ahli hukum perdata internasional, terutama untuk mengantisipasi potensi masalah.
B. Saran
Masalah undang undang perkawinan campuran antar bangsa,seharusnya benar – benar memberikan solusi bagi masyarakat dan tidak hanya menguntungkan satu pihak. Dalam hal ini permasalahan anak yang dihasilkan dari perkawinan campuran sangatlah perlu diperhatikan. Untuk itu, hendaknya pemerintah benar – benar fokus dalam menetpapkan kebijakan tentang anak hasil dari perkawinan campuran. Dan tentunya undang – undang perkawinan campuran antar bangsa ini tujuannya dapat melindungi hak – hak warga Negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
http://jurnalhukum.blogspot.com
http://www.wikipedia.com
http://ibalngintipdunia.blogspot.com/2008/12/pernikahan-antar-bangsa.html

SAHABAT

Ketika ku sendiri
Aku mencari sesuatu
Yang bisa aku percayai
Dan bisa menyayangiku
Ketika ku tak menemukanmu
Aku pun menangis pilu
meratapi kepeduhanku

Aku butuh kamu SAHABATKU…

Facebook??

Sekarang ini memang lagi The Facebook Era. Indonesia pun juga tidak mau ketinggalan dengan jejaring aplikasi sosial on-line Facebook yang kini menjadi nomor satu menyingkirkan Friendster, Multiply.com, MySpace yang terlebih dulu muncul dan popular sebelumnya.

Sekarang ini juga sedang heboh-hebohnya berita tentang dikeluarkannya fatwa bahwa facebook diharamkan. Namun fatwa ini menuai kecaman dari beberapa pengguna Facebook. Menurut facebooker, facebook tidak hanya untuk melakukan hal-hal yang negatif saja, tetapi facebook juga bisa di gunakan untuk hal-hal yang positif. Misalnya, untuk menjalin tali silaturahmi, media promosi sebuah produk, media komunikasi dengan teman, dan masih banyak lagi.

Ya maka dari itu dalam menghadapi era Facebook masa kini kalangan pengguna Facebook harus bersikap ekstra hati-hati. Jangan sampai menggunakan facebook untuk hal-hal yang negatif dan tidak penting.